Khasiat Madu Lebah dalam Pengobatan

Khasiat Madu Lebah dalam Pengobatan

Khasiat madu lebah dalam pengobatan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul keistimewaan madu untuk kesehatan manusia.

Nah, bila artikel bagian pertama baru menurunkan delapan khasiat, yang kedua ini menuntaskan sisanya menjadi lima belas. Yuk kita baca sampai tuntas.

9. Madu dan Penyembuhan Penyakit Diabetes

Meski mengandung banyak zat gula, madu berkhasiat mengobati gejala penyakit gula dan komplikasinya. Sebetulnya, mengonsumsi zat-zat kimia selain gula berguna membersihkan makanan dan minuman pada pasien diabetes, seperti zat sokrol yang rasanya enak. Akan tetapi, zat tersebut memiliki efek samping bagi tubuh. Oleh sebab itu, banyak ilmuwan berusaha meneliti zat lain selain sokrol dan gula putih (gula tebu).

Para ilmuwan menyebutkan bahwa pasien diabetes jika mengonsumsi madu akan mengalami perubahan di dalam hati menjadi gula hewan/gula otot (glikogen). Setelah itu, biasanya tubuh akan mendapatkan manfaat secara alami. Terdapat perbedaan besar antara gula hewan/gula otot dengan gula anggur (glukosa). Disebutkan bahwa gula buah (sukrosa) membentuk sebagian besar madu (45%).

Pada tahun 1953, para ilmuwan Jerman, Karneim dan kawan-kawannya, menyatakan bahwa 50% gula buah (sukrosa) di dalam tubuh akan berubah menjadi zat glikogen yang bermanfaat pada pasien diabetes.

Kenyataan ini sampai kepada para ilmuwan Eropa, seperti Hatsnison, Amoes, dan Toebys. Mereka menyebutkan bahwa madu obat adalah bahan pembersih makanan dan minuman terbaik.

Pemberian madu kepada pasien diabetes sebanyak 20 gram saat berbuka puasa, 20 gram setelah waktu zhuhur, tanpa perubahan apa pun pada pengobatan harian mereka, tidak akan meningkatkan kadar gula darah. Madu yang digunakan harus alami, bukan madu campuran apalagi yang palsu.

Madu terbaik bagi penderita diabetes adalah madu musim panas, karena lebah pada saat itu mengonsumsi manisan bunga tanpa gula putih. Adapun lebah musim dingin, mengonsumsi gula putih karena minimnya bunga pada musim dingin. Dua tokoh ilmuwan, Strews dan Ruzenfeld, menyatakan bahwa gula yang berbeda akan menghasilkan hasil yang beragam.

Mengonsumsi gula buah yang sesuai dengan tubuh pasien, lebih baik dibandingkan gula anggur (glukosa) dan gula putih (gula tebu). Hal itu disebutkan pada buku Traete Biologie de L’adeille di tahun 1968.

Pada tahun 1971, di Negara Kakuta, wilayah Wisconsin, Amerika, tersebar cerita insinyur Amerika penderita diabetes. Setiap pengobatannya selalu mengalami kegagalan karena komplikasi penyakit. Para tetangga menasihatinya untuk mengonsumsi madu sebagai zat pembersih makanan dan minumannya.

Dia disarankan untuk menghindari gula putih. Dia menyerahkan urusannya kepada para dokter. Akan tetapi, mereka menolaknya dan mengatakan bahwa madu akan menambah buruk keadaannya. Meskipun dicegah, dia tetap mengonsumsi madu sebagai bagian dari makanan dan minumannya. Dia mengatakan bahwa setelah mengonsumsi madu sebagai bahan pembersih makanan dan minumannya disertai penjagaan (controling), kadar gula di dalam darahnya menurun drastis dan keadaannya juga semakin membaik.

Ketika hal itu dipublikasikan, dua orang berkebangsaan Amerika (suami istri) yang menderita diabetes beralih mengonsumsi banyak madu dan buah. Pada akhirnya, sepasang suami-istri tersebut sembuh dari penyakit diabetes. Dengan demikian, jelas bahwa mengonsumsi madu dan banyak buah sangat bermanfaat bagi penderita diabetes.

Dengan judul Rihlatun Ilallahi wa Rasulihi (Rihlah menuju Allah Swt. Dan Rasul-Nya) pada majalah Hadharatul Islam (Peradaban Islam), jilid lima, edisi tiga, Dr. Musthafa Siba’i menyebutkan pengalaman pribadinya ketika sembuh dari penyakit diabetes dengan menggunakan madu. Tidak hanya itu, dia menjaga makanan dengan memakan buah segar.

Nyatalah sudah kebenaran hadits Rasulullah saw. yang mulia berikut ini: “Hendaklah kalian menggunakan dua penyembuh ini, Al-Qur’an dan madu.”

Demikian juga kebenaran firman Allah Swt.: “…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia….” (QS. An Nahl [16]: 69)

Beliau mengatakan bahwa setelah lima bulan sejak mulai menggunakan aturan ini dalam pengobatan, kadar gula pada saluran kantong kemih menghilang dengan sempurna. Kadar gula darahnya berkurang drastis hingga mendekati batas alami.

Tokoh pertama yang menyatakan manfaat madu adalah Defedoerf dari Rusia pada tahun 1915. Dia menyebutkan bahwa gula madu lebih utama dibandingkan dengan gula lainnya sebagai makanan para penderita diabetes. Gula madu mencegah zat asam pada darah. Para ilmuwan Rusia menemukan zat pada madu yang melakukan aktivitas insulin dan bekerja menyembuhkan kadar gula.

Seorang ilmuwan Universitas Otawa, Kanada, menetapkan bahwa zat ini merupakan salah satu zat alkohol yang terdapat di dalam madu. Akan tetapi, mereka tidak mengenalnya lebih jauh.

Di dalam madu, tersusun zat yang memotivasi aktivitas sel penghasil insulin. Insulin sendiri, secara alami dihasilkan di pankreas.

10. Madu Memperbaiki Aktivitas Organ Ginjal

Madu mengandung gula fruktosa, minyak uap, dan zat-zat organik yang banyak. Semuanya bekerja menyembuhkan ginjal dari sebagian gangguan aktivitas yang dihadapinya. Zat-zat ini sama sekali belum ditemukan di dalam madu.
Akan tetapi, pengamatan medis menetapkan adanya perubahan yang dirasakan saat berkurangnya aktivitas secara total. Dan keadaan membaik yang luar biasa saat radang mikroba terhadap kantong kemih dan saluran kantong kemih.

11. Madu Mengandung Zat Antikanker

Para ilmuwan mengamati bahwa penyakit kanker jarang terjadi pada peternak lebah. Mereka belum menemukan zat-zat penyebab hal itu sehingga berkembanglah teori-teori yang menafsirkannya berikut ini.

Teori pertama, mengatakan bahwa racun lebah merupakan penyebab resistensi (penghambatan) penyakit kanker bagi para peternak lebah. Hal ini didasari pada seringnya peternak disengat lebah.

Teori kedua, mengatakan bahwa sesungguhnya para peternak lebah mengonsumsi madu yang mengandung kadar royal jelly yang tinggi.

Teori lainnya, mengatakan bahwa penyebabnya adalah konsumsi madu yang kaya akan serbuk sari. Pendapat ini dikuatkan dengan hasil penemuan zat-zal kimia yang dihasilkan oleh lebah di atas biji-bijian serbuk sari.

Madu mencegah berpencarnya sel-sel onkogen (calon kanker) di dalam tubuh si peternak. Akan tetapi, semua teori ini belum dipastikan kebenarannya.

12. Madu Sebagai Obat Gangguan Kehamilan

Pada awal masa kehamilan, ibu hamil menghadapi rasa mual, muntah, dan berbagai gangguan pada darah. Para dokter belum menemukan obat penyembuh keadaan ini. Penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa ibu hamil jika mengonsumsi madu, kondisi kesehatannya akan membaik.

Ini merupakan keberanian para dokter menggunakan madu pada pengobatan. Hal itu dilakukan melalui injeksi pada urat nadi dengan konsentrasi 40%. Banyak dokter yang menyarankan penggunaan madu ini sebagai makanan harian ibu hamil.

13. Madu dan Penyembuhan Penyakit Kerapuhan (Osteoporosis)

Pada madu terdapat zat antibiotik pembunuh mikroba penyebab kerapuhan pada manusia. Di dalam darah, mikroba ini biasa menyebabkan penyakit kekurangan kalsium. Oleh karena itu, madu bertugas membunuh mikroba yang di dalamnya terdapat zat-zat penurun kadar kalsium.

Jelaslah bahwa madu sesungguhnya merupakan zat penguat tubuh yang paling utama bagi manusia serta zat perlindungan utama dari kerapuhan.

14. Madu Mengandung Antioksidan (Zat yang Memperlambat Penuaan)

Zat yang ada di dalam madu diantaranya memiliki khasiat dalam meminimalkan tingkat racun internal di dalam tubuh. Hal ini berpengaruh pada proses penuaan. Royal jelly terbukti mampu memperlambat penuaan pada ratu lebah. Begitu juga pada manusia, walaupun penelitian ke arah itu belum dilakukan.

15. Madu dan Penyembuhan Penyakit Mata dan Kulit

Dahulu, para dokter menggunakan madu untuk mengobati trachoma (penyakit mata) bernanah. Seiring perjalanan waktu, madu tidak kehilangan fungsinya untuk mengobati penyakit mata. Para dokter mata di Aodesa dan Ukrania merupakan para tokoh motivator yang paling terkenal untuk mengobati penyakit mata dengan madu. Mereka menetapkan bahwa madu memiliki pengaruh medis yang baik untuk setiap penyakit radang kornea.

Di sini, madu bekerja sebagai obat tetes pada mata. Penetesan mata dengan madu menyebabkan cepatnya penyembuhan pada banyak keadaan. Hal ini membuka pintu bagi para dokter untuk meneliti madu sebagai obat penting untuk seluruh penyakit mata.

Madu juga berpengaruh baik terhadap radang kulit. Kita telah membicarakan hal itu sebelumnya.

Demikianlah artikel khasiat madu lebah dalam pengobatan. Madu merupakan obat yang banyak menyembuhkan penyakit. Ini telah diteliti dan diakui oleh para ilmuwan.

Dengan demikian berbagai penelitian ilmiah tersebut sesuai dengan pengertian firman Allah Swt. tentang madu berikut ini.

“…di dalamnya (madu) terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia….” (QS An Nahl [16]: 69).

Sumber artikel: mustakim.staff.ub.ac.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *